Belajar Mensyukuri Hidup Kembali

Hari ini setelah selesai kuliah jam 12, mumpung lagi ga sholat, pergi deh ke kantor oriflame ngurusin orderannya teman. Dalam perjalanan itu banyak hal yang saya temui, hal yang berusaha saya resapi bahwa hidup ini terlalu beragam masalahnya namun dengan kelapangan hati semua pasti akan berlalu indah…

“Bu, nda ada uang seribuku” kata sopir angkot pada seorang ibu yang turun sambil memberikan selembar uang 5000.

“ya dah deh pak, ambil saja kembaliannya kata ibu yang turun itu sambil berlalu pergi, kyaknya dia sudah tidak mendengar ucapan terima kasih yang diucapkan pelan oleh sopir angkot

Dalam hatiku, coba kalau ibu itu ngotot uang seribunya kembali, pasti bakal  lama deh kita para penumpang lain menunggu di dalam angkot yang kayak oven itu. pasti dalam hati tuh ibu, ya dah biar saja 1000nya jdi rezeki berlebih utk sopir, udah syukur slamat mpe tujuan.

Beberapa lama kemudian angkot yang saya tumpangi melewati sebuah mobil open cap, di atas mobil itu terdapat beberapa laki-laki duduk santai di lantai mobil yang kalo ditaksir berumur sekitar 35-45 tahunan,  mereka terkekeh riang, suara canda mereka terdengar sampai dalam angkot yang saya tumpangi, dari penampilan luar mereka sepertinya mereka para pekerja kasar selesai pulang dari tempat kerjaan,  pasti mereka cape tapi yang nampak hanya kegembiraan laksana gembiranya matahari menyengat kulit mereka. Tapi itulah wujud syukur mereka yang harus kita tiru, mereka yang pastinya serba kekurangan  masih bisa mensyukuri apa yang sudah ditadirkan ke mereka, bercanda bersama, mereka seperti keluarga, senasib sepenanggungan, saling menceriakan walau hidup serba dalam keterbatasan (finansial).

Setelah angkot belok lagi, ada yang menghentikan angkot, karena hampir ga kelihatan sama supir angkot, angkotnya menepi beberapa meter di depan calon penumpang itu, sepertinya suami istri. umur mereka sekitar 50an tahun ke atas. Si istri dipapah oleh suaminya, karena pengen cepat naik, istrinya kesandung batu dipinggir jalan, si istri itu langsung ngeluh dan sperti menyalahkan dirinya yang berjalan agak pincang (mungkin karena penyakit yang ia derita), tetapi terdengar sang suami mengatakan kalau jalannya memang agak turun jadi itu yang membuat kamu hampir jatuh, si istri pun terdiam, mungkin hatinya terhibur dengan kata-kata suaminya. Coba bayangkan kalau suaminya jg ikut mengumpat istrinya, pasti sampai dalam angkot pasangan itu akan beradu suara..

Mereka telah memberi pelajaran berharga buat saya hari ini, hidup memang tak seindah yang kita harapkan tapi tetaplah menjalanninya dengan penuh syukur, ada yang lebih menderita dari kita, Hidup akan terus berjalan hingga di saat kita dipanggil Sang Pencipta untuk menhadapNya kembali..

Smangaaatt….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: