Sakit

Bulan Mei sudah berlalu. Bulan dimana secara tak sadar menyebabkan tingkat stressku berada dipuncak tertingginya. Lemah yang teramat sangat secara fisik dan psikisku. Dan akhirnya merobohkan daya tahan tubuhku. Sakit yang ku yakin tidak akan pernah kambuh lagi ternyata datang lagi, maagku kambuh lagi sakitnya, membuatku harus dirawat di rumah sakit selama 7hari.

Menurut berbagai sumber penyakit maag sebagian besar disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, kurang tidur, stress, kelelahan dan tingkat emosional yang meninggi. Memang tidak dipungkiri masalah yang kuhadapi saat ini membuatku seperti hidup tak mau tapi matipun belum siap. Makan sudah tak enak, tidur tak nyenyak, otakpun terus dan terus berfikir membuat dada ini semakin sesak.

Selama di rumah sakit, teman-teman yang menjengukku banyak yang bilang kalau diriku stress. Memang tidak bisa dipungkiri masalah yang kuhadapi saat ini membuat hidupku berantakan, makan tak enak, tidur tak nyenyak, otak dipenuhi dengan berbagai macam fikiran, membuatku hidup sudah tak mau tapi matipun belum siap. Ada yang bilang “sabar cha, fikirkan anak-anak”. Dalam hatiku, entah sudah berapa kali saya mengikhlaskan hati ini disakiti , entah sudah berapa kali saya memegang janji-janji palsu, entah sudah berapa kali saya memberi dia kesempatan karena saya berfikir kehidupan anak-anak yang masih sangat dini, namun semuanya terlihat sia-sia, hanya sakit hati, dada sesak dan mata berair yang terus aku dapatkan. Sampai kapan aku terus berpura-pura hidup bahagia dengan laki-laki yang saya bela mati2an di depan keluarga untuk saya nikahi, tak ada yang bisa menjawabnya, tidak ada..

Sudah cukup saya memberikan dia kesempatan, pisah adalah satu-satunya cara agar dia sadar sepenuhnya kalau kelakuannya sudah tidak bisa diterima. Sekarang dia yang harus benar-benar berfikir, karena ulahnya yang tidak berfikir maka seperti ini akibatnya. Toh anak-anakpun hidupnya tidak nyaman karena rumah terus dipenuhi kepura-puraan dan amarah yang terpendam, adanya tetidakjujuran yang membuat harga diri dihantui oleh tidak adanya penghargaan. Anak-anak malah terlihat aman disaat orang tuanya pisah, walau memang bibir mungil mereka pasti akan bertanya kapan mama pulang. Ini bukan sebuah keegoisan tapi sebuah pengorbanan, karena saya tidak mampu melawan dia, membawa anak-anak ikut bersama saya, saya lemah memperebutkan anak-anak, tidak tega melihat mereka shock saling diperebutkan.

Sakit..
Karena laki-laki yang kubela mati2an utk kunikahi dan yang kuharapkan bisa menjadi imamku malah menghancurkan impianku tentang sebuah keluarga
Sakit..
Karena sumpah atas nama Allah dan janji-janji yang entah keberapa dengan entengnya dikhianati
Sakit..
Karena kepercayaan yang selama ini dia diutamakan malah dia sendiri yang tidak bisa dipercaya
Sakit..
Karena merasa diri ini diberlakukan seperti batu pajangan beranak
Sakit..
Karena terpaksa mengorbankan buah hati di tengah keputus-asaan
Sakit..
Karena tudingan orang yang tidak tau masalah sebenarnya yang kuhadapi
Sakit..
Karena mereka yang selalu merasa mereka benar dan aku yang salah
Sakit..
Karena terpisah dengan buah hati, dan hanya bisa menyentuh bekas sayatan pisau dimana dulu mereka keluar melihat dunia
Sakit..
Karena ternyata hidup terus bergulir padahal mimpi-mimpi telah dihancurkan

Sakit terus menggorogoti jiwa dan ragaku, akankah sampai malaikat maut itu tiba?..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: