“Kadang di Atas Kadang di Bawah”

Hari ini saya iseng mengelilingi Kota setelah pulang kursus. Seperti biasa rasa ga mood di rumah itu bikin saya ga ingin balik ke sana, hmm… Entahlah.
*back ke topik sebenarnya ajah

Di perjalanan, di setiap blok jalanan kota saya melihat ada orang yang sepertinya “kurang beruntung hidupnya” (dari segi finansial mungkin yaa, tpi sebenarnya mereka mungkin bahagia dengan kehidupan mereka). Setiap bertemu orang-orang seperti itu sebenarnya hati ini amat sedih, hidup seperti tidak adil untuk sebagian orang, ada yang sangat kaya sampai-sampai punya rumah yang begitu banyak, dan ada sebagian orang yang makan saja harus menjatuhkan harga diri mereka di jalanan karena kemiskinan.

Kondisi mereka berbeda-beda, di awal pertemuan ada sosok lelaki tua yang renta berjalan pelan tanpa alas kaki sambil membawa kantongan kecil berisi ikan mentah dan tangan satunya menggenggam seikat sayuran, sepertinya bapak ini pulang dari pasar membantu istri rentanya membeli kebutuhan makan keluarga untuk hari ini, atau mungkin karena istrinya sudah tiada hingga beliau sendiri yang ke pasar, damai rasanya melihat bapak tua itu, aku bisa membayangkan pasti hidupnya tidak terbebani oleh kebrutalan hidup.

Yang kedua peminta-minta di emperan toko, ada dua orang di di tempat itu menatapku saat masuk toko, pliss deh jangan melihat saya seperti itu donk, ntar pulang selesai belanja baru saya kasih jatah kalian yaa…

Ketiga ketemu pengamen jalanan di perempatan lampu merah, ada beberapa pengamen disana, rata-rata masih berumur anak sekolahan, di setiap mobil dan motor yang berhenti mereka menyanyikan sepotong lagu berharap ada yang mengupah nyanyian mereka dengan selembar uang atau beberapa recehan, mereka ga peduli dengan modal suara mereka yang pas-pasan, yang penting mereka udah berusaha, salut juga sih dari pada meminta-minta ga jelas, hmm.. Moga mereka ga putus sekolah, moga mereka diberi keselamatan lebih karena mengais rezeki dijalanan..

Keempat seorang ibu-ibu dan anaknya yang sedang beristrahat di emperan toko, di depan ibu itu ada gerobak kecil yang terparkir, sepertinya ibu itu pemulung, namun gerobaknya kelihatan kosong tak ada barang-barang bekas, mungkin dia sudah selesai mengantarnya ke pengumpul barang bekas, mungkin juga karena seharian dia belum mendapatkan sesuatu yang dinilai masih berharga untuk bisa dijual kembali. Di sebelahnya berbaring anak kecil beralas kardus, lelap sepertinya, mungkin anak kecil itu cape dan sangat mengantuk sampai-sampai ibunya berhenti di teras toko itu sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah, atau jangan-jangan mereka tidak punya rumah, Yaa..Allah sungguh miris jadinya kalau mereka tidak punya rumah😦

Ingin rasanya tangan ini membantu mereka, lebih dari sekadar memberi beberapa lembar dan keping uang. Bahagia rasanya mendengar ucapan terima kasih dari mereka saat menyerahkan recehan atau disaat sempat membelikan nasi bungkus untuk mereka, saya percaya dengan doa dan respect kita kepada mereka, Tuhan tak akan pernah lupa untuk memberi moment dimana mereka bisa merasa lebih bahagia dari orang terkaya pun di dunia ini, manusia tak akan tau kapan kondisi kita malah dapat berbalik sebaliknya, seperti kata pepatah kadang di atas kadang di bawah, dan semoga aku siap untuk dua posisi itu, aamiinn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: