Hari Tanpa Rokok!

Tanggal 31 Mei ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) sebagai Hari Tanpa Rokok. Meskipun dalam bahasa Inggerisnya disebut sebagai World No Tobacco Day, di Indonesia barangkali lebih baik diterjemahkan sebagai Hari Tanpa Rokok. Supaya jangan dibelokkan bahwa kegiatan gerakan anti-rokok diterjemahkan sebagai anti-petani tembakau. Gerakan anti-rokok juga tidak ditujukan untuk melarang orang merokok, jika hal itu dilakukan di tempat yang memang dikhususkan sebagai tempat untuk merokok. Siapa yang membelokkan gerakan anti-rokok sebagai gerakan anti-petani tembakau? Tentulah para pemroduksi rokok. Para petani tembakau tentunya tidak membaca sendiri undang-undang kesehatan, ataupun kalau membaca ada yang membisiki bahwa undang-undang tersebut akan melarang orang menanam tembakau, karena tembakau dianggap sebagai zat adiktif. Zat yang menimbulkan kecanduan. Kalau hanya kecanduan tanpa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan mungkin tidak begitu dipersoalkan oleh undang-undang kesehatan. Tetapi karena unsur-unsur dalam tembakau dan rokok (termasuk asapnya) berbahaya bagi kesehatan, maka konsumsinya harus diatur. Undanhg-undang kesehatan, meskipun menyatakan tembakau sebagai zat adiktif (menimbulkan kecanduan), pasal-pasalnya hanyalah mengatur peredaran dan konsumsinya. Tidak menyatakan bahwa tembakau dilarang ditanam atau rokok dilarang dijual.

Meskipun pecandu rokok menyanggah bahwa tembakau, atau rokok beserta asapnya berbahaya bagi kesehatan manusia, sudah menjadi kenyataan yang diakui dan dibuktikan di kalangan kesehatan di seluruh dunia. Banyak pecandu rokok yang baru menyadari ketika ia sudah terkena penyakit yang berkaitan dengan rokok, seperti serangan jantung atau stroke. Barulah ia sadar dan menghentikan kebiasaan merokoknya. Tetapi ketika itu keadaan sudah terlambat. Kalaulah perokok berani menantang penyakit itu, karena banyak perokok yang masih hidup, silakan saja. Yang perlu mereka ingat adalah jangan membagi asap rokoknya kepada orang lain yang tidak merokok, terutama anak-anak dan perempuan.

Bahwa ada perempuan yang berani menantang, ya silahkan juga, asal tidak mengasapi anak-anaknya dengan asap rokok, termasuk anak yang ada dalam kandungannya. Sekadar berbagi, penelitian di negara-negara maju membuktikan bahwa asap rokok (dari orang lain) yang mengenai anak-anak akan membuat ia mengalami kesulitan dalam belajar (learning disability), cenderung menjadi anak atau orang pemberang (hostile) kelak, dan mempunyai kapasitas paru yang lebih rendah disbanding bukan perokok. Apalagi kalau orang tuanya mengurangi belanja untuk perbaikan gizi anaknya demi memenuhi ketagihannya akan rokok.

Yang juga perlu diketahui adalah bahwa asap rokok yang mengendap di perabotan rumah, terutama yang terbuat dari kain (jadi termasuk juga baju), akan melekat sampai bertahun-tahun dan sulit dibersihkan. Endapan nikotin dalam perabotan dan kain-kain tersebut hanya dapat dibersihkan dengan zat pembersih yang bersifat asam, karena endapan nikotin hanya larut dalam asam. Sementara obat pembersih yang dipergunakan di rumah tangga semuanya bersifat basa (alkalin). Oleh karena itu para perokok, sebelum menggendong anaknya, gantilah baju dengan baju yang tidak pernah terkena asap rokok. Jadi selalu siapkan baju yang khusus bebas endapan rokok demi melindungi anaknya. Dan kalau mau merokok, keluarlah dari rumah sebentar.

Hari Tanpa Rokok ditujukan untuk mengingatkan semua orang akan bahaya merokok bagi kesehatan. Bagi perokok, sebagai pengingat agar jangan membahayakan orang lain dengan asap rokoknya. Gerakan pengingat tentang bahaya rokok ini tidak hanya ditujukan kepada kretek seperti yang dihembuskan akhir industri rokok, tetapi juga terhadap rokok putih, bahkan juga shisha. Untuk tanggal 31 Mei ini dimintakan sikap solidaritas dengan bukan perokok. Jangan merokok setidaknya sehari itu saja. Tema tahun ini berjudul “Interferensi Industri Rokok terhadap Upaya Pengendalian Konsumsi Rokok”. Tema itu bukan hal baru karena industri rokok sudah lama berkongkalingkong dengan elit politik di negara manapun juga agar tidak mengendalikan konsumsi rokok. Dengan segala cara. Untuk negara yang elit politiknya bermental korup, hal itu makin mudah (dan murah) bagi industri rokok. Jangan pula harapkan bahwa elit politik itu berpihak ke rakyat, apalagi melindungi kesehatan rakyatnya. Toh kalau rakyat sakit-sakitan, bukan mereka yang menanggung biayanya. Ujar Kartono Mohamad Mantan Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/analisdetail/2012/05/28/264/Hari-Tanpa-Rokok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: