Generik Bukan Obat Murahan!!

Saat membuka email di salah satu yahoogroups yang saya ikuti, ada satu email yang menarik saya untuk lebih menyimak isi emailnya (biasanya cuma lihat subjeknya trus langsung tutup lagi, heheh..) Saking tertariknya maka saya mengcopas isinya (to Bapaknya Gozan misi yaa emailnya dicopas..;) biar lebih banyak lagi yang tau kalau generik bukanlah seperti anggapan sebagian orang yang masih gengsi menggunakan obat generik.

*Obat generik masih di anggap tidak bermutu karena harganya murah.
Padahal isi dan khasiat nya sama dengan obat bermerek.*

Widya bergegas ke apotek di dekat rumahnya di bilangan Daan Mogot,
Jakarta Barat. Ia ingin menebus resep obat untuk mengatasi rasa gatal di kulitnya lantaran alergi. Tak berapa lama, perempuan 20 tahun itu menenteng obat bermerek untuk mengatasi alerginya. Meski harganya relatif lebih tinggi ketimbang obat generik, dia tak terlalu peduli. Apalagi selama ini Widya telanjur tidak percaya kepada obat generik karena menganggap obat yang dikenal murah harganya itu murahan. “Dokter juga kasih resepnya obat bermerek,” ujar Widya kepada Tempo, Sabtu lalu.

Penilaian obat generik sebagai obat murahan pula yang diduga menjadi penyebab gagalnya program obat generik murah dengan Rp 1.000. Program ini diluncurkan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada awal Mei 2007. Ada 20 jenis obat yang diproduksi oleh Indofarma saat itu, seperti Indo Obat Batuk dan Flu; obat flu, batuk berdahak, asma, penurun panas anak, penurun panas, penambah darah, mag, dan sakit kepala, serta Indo Obat Batuk Cair.

Menurut Direktur Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Maura Linda Sitanggang, sebenarnya tidak ada yang membedakan antara obat generik dan obat bermerek dalam hal komposisi obat. Isi dan khasiatnya pun sama. Menurut dia, kecenderungan masyarakat yang enggan m an masyarakat yang enggan memilih obat generik disebabkan oleh pola pikir yang salah.

“Obat generik masih dianggap tidak bermutu karena harganya murah. Padahal harga itu murah karena biaya promosi ditiadakan dan harganya ditentukan oleh pemerintah,” kata Maura saat temu media di Kementerian Kesehatan, Jumat lalu.

Selain pola pikir masyarakat yang keliru, ia menyayangkan ihwal banyaknya tenaga medis yang memberikan resep obat bermerek. Dia berharap, ke depan, hal-hal seperti ini tidak lagi terjadi. Kepercayaan terhadap obat generik harus ditumbuhkan. Sebab, selain substansinya sama dengan obat bermerek, harga obat generik cukup terjangkau: murah, tapi tidak murahan.

Menurut Maura, penjualan obat generik di Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara lain. Volume penjualan di negeri ini hanya mencapai 38 persen, sedangkan di negara lain bisa mencapai 70-80 persen. Kecilnya volume penjualan obat generik nasional in berimbas pada nilai rupiah penjualan yang hanya me nyumbang 8-10 persen dari penjualan obat nasional. Saat ini belanja obat per tahun secara nasional mencapai Rp 40 triliun.

Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan Bahdar Johan Hamid mengatakan, jika masyarakat banyak menggunakan obat generik, yang terjadi adalah harga obat semakin terjangkau.”Kalau masyarakat banyak pakai generik, penggunaan obat bermerek kan turun,” kata dia, “Maka, dengan sendirinya biaya obat akan murah. Generik bisa menjadi penyeimbang harga.”

Saat ini, menurut Bahdar, industri farmasi dalam negeri telah memenuhi kebutuhan obat nasional sekitar 90 persen. Namun hampir 95 persen produksi tersebut masih bergantung pada bahan baku obat impor. Kementerian Kesehatan menargetkan ketergantungan bahan baku obat impor ini akan terus menurun da ri tahun ke tahun. Caranya, dengan meningkatkan produksi bahan baku obat dalam negeri.

Sementara itu bahan baku obat produksi dalam negeri saat ini hanya 5 persen. Kementerian Kesehatan menargetkan pada akhir tahun ini produksi bahan baku obat tersebut akan mencapai 15 persen. Jumlah ini diharapkan terus meningkat, yakni pada 2013 mencapai 20 persen, dan pada 2014 menjadi 25 persen. Dalam struktur biaya, persentase bahan baku obat mencapai 35 persen. Sedangkan kemasan mencapai 15 persen dan sisanya untuk ongkos produksi.

Meskipun menargetkan peningkatan produksi bahan baku obat dalam negeri, Maura menegaskan ketergantungan terhadap bahan baku impor akan selalu ada. “Tidak ada satu negara pun yang bisa menyediakan semua kebutuhan bahan baku obatnya sendiri,”kata Maura. AMIRULLAH

http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/13/ArticleHtmls/GENERIK-BUKAN-OBAT-MURAHAN-13032012145002.shtml?Mode=1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: